Hutan Pendidikan

HUTAN PENDIDIKAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KEHUTANAN (STIK) PANTE KULU

Kebutuhan areal plot permanen dan tempat pratikum kehutanan sudah mengemuka sejak 1986. Pada tahun 1993 telah digagas oleh Kampus STIK sebuah kawasan hutan yang dikhususkan sebagai bagian pengembangan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan dan pusat kajian kehutanan/laboratorium alam. Awalnya lokasi hutan pendidikan ini direncanakan pada beberapa kawasan hutan sebagai alternatif, salah satunya di Desa Lambaroangan Blang Karam – Kabupaten Aceh Besar. Dalam perkembangannya di tahun‐tahun berikutnya kawasan ini terakhir tertuang secara status di dalam tata ruang provinsi berdasarkan SK Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam No. 19 tahun 1999 tentang Arahan Fungsi Kawasan Hutan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Sejak ditunjuk sebagai Hutan Pendidikan sampai saat ini belum terdapat perubahan dan perbedaan dari keberadaannya serta arah pengelolaannya ke depan. Baru awal 2006 melalui usulan Dinas Kehutanan dan BRR dilakukan tata batas dan sosialisasi serta menjalin hubungan jaringan dengan beberapa Hutan Pendidikan yang ada di Indonesia. Dari Banda Aceh atau Kampus Darussalam ke Jantho Aceh Besar bisa menggunakan kendaraan umum bus sekitar 40 km dari Jantho Ke desa Boeng 5 km dan dari Desa sampai ke lokasi 1 km. Untuk mengakses lokasi hutan pendidikan ini dapat menggunakan kenderaan roda 4 maupun roda 2.

Beberapa fasilitas pendukung antara lain: mess 16 kamar yang di setiap kamar memiliki kamar mandi, aula dengan daya tamping 70 orang yang didalamnya terdapat Ruang Alat Klimatologi, Musholla, MCK, Menara Pantau. Terdapat sungai yang berada di dalam areal, areal camping ground, kantin bale-bale, persemaian, listrik PLN dan generator serta air bersih yang bersumber dari hutan alam sekitar dengan system grafitasi.
Kondisi prasarana yang telah ada sekarang adalah sebagai berikut:
  • Jalan tanah sepanjang 1,6 km yang masih sering longsor dan tergerus air.
  • Akses air bersih ada tetapi pipa air bersih belum terpasang.
  • Mess yang bocor dan ruangan dimasuki lumpur yang terbawa saat hujan, prasarana kamar seperti tempat tidur dan meja kerja belum ada serta belum ada air bersih.
  • Aula dan kantor, pustaka laboratorium,meja kursi serta fasilitas pendukung meeting belum ada, lantai keramik rusak, air bersih belum ada.
  • Musholla dan MCK , air bersih belum tersambung.
  • Bale‐bale atap rusak dibawa angin.
  • Tower air belum tersambung pipa air bersih.
  • Listrik putus dan beberapa jaringan gedung terganggu.
  • Menara pengamat, beberapa bagian pagar atas patah, atap mulai rusak diterpa angin.
  • Tanaman yang telah ditanam mati dan tertekan hidupnya tidak terpelihara dan diganggu ternak akibat tidak dipagar, sedang batas permanen belum ada.
  • Banyak lahan yang masih kosong belum tertanami dan belum ada pemagaran terbatas.

Sedangkan beberapa rencana jangka pendek ke depan adalah sebagai berikut:
  1. Terbangunnya berbagai sarana dan prasarana.
  2. Terbangunnya sarana persemaian permanen dan pusat agroforestry di Aceh.
  3. Berfungsi sebagai sumber penghasil biji, bibit untuk penanaman yang disebarluaskan. Menyediakan kebutuhan bibit untuk kegiatan reboisiasi, penghijauan dan pelaksanaan agroforestry secara hibah untuk masyarakat sekitar DAS aceh besar sesuai prioritas.
  4. Penanaman buah‐buahan dan pohon hutan untuk tujuan memelihara keberadaan mereka dan tetap ditemukan pada waktu masa datang.
  5. Berfungsi sebagai perkebunan model untuk riset mahasiswa siswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan dan mahasiwa dari institusi lain secara umum.
  6. Mengembalikan kondisi dan fungsi hutan dan mendorong keterlibatan pengelolaannya kepada masyarakat lokal.


ANALISIS TINGKAT KEPARAHAN KEKERINGAN DAN UPAYA MITIGASI BENCANA HIDROLOGIS DI SUB DAS KRUENG JREUE ACEH BESAR

HelmiBasri, HairulSufardiHelmi

Abstract:

Drought is an act of nature most powerful on the availability of the water supply, both necessary for the benefit of agricultural and to human need.There are three phases of analysis to research the severity of this drought: (1) To identify station rainfall in the study areas. Monthly data precipitation using rain observation data ( 2005-2014) from 2 stations in Indrapuri and Jantho; (2) Analysis was conducted rainfall to get the drought meteorology of each station precipitation with the gauge standardized precipitation index ( SPI ); and (3) Analysis was conducted spline interpolate method index value dryness of each rainfall station to get scatter drought.The analysis by using the 3 monthly scale SPI method (SPI-3), The rainfall in 2005-2014 year had not a very dry because rainfall for 12 months from January until December for that 10 years, only on June-July-August (JJA) experienced dry conditions with the drought index averange among -0,80 until -1,00. The rest months September- October-November (SON), Desember-January-February (DJF) and March-April-May (MAM) in normal condition, with the -0,99-0,99 value range of the SPI.The hidrologis disaster mitigation may be done by structural (optimalize the development of the Krueng Jreue dam, rehabilitation and irrigation maintenance. Storage excess water in the rainy season for use in the dry season), and non structural (non structural to predict drought, reforestation, planting plant water saving, the use of mulch and organic matter)

LINGGA ISAQ HUNTING PARK AS A BASIS FOR SUSTAINABLE MANAGEMENT: A SOCIO-ECONOMIC STUDY

Cut Maila Hanum, Hadi Sukadi Alikodra, Agus Priyono Kartono, Rinekso Soekmadi

ABSTRACT


The management of conservation and socio economic condition of surrounding communities are always connected each other. The similar case can be found in Lingga Isaq Hunting Park (LIHP), one of the conservation areas located in Aceh Province. This study is aimed to examine socio-economic conditions of the community around LIHP as the basic data to improve the effectiveness of area management. Data were collected through a technical survey by interviewing 120 respondents who were randomly selected from two sub districts namely; Bintang and Linge where each sub district consists of three villages. The results showed that 52.57% of total community income is obtained from coffee plantation which planted within the LIHP area. The level of hunting park contribution to community income, indicates that the communities are highly relies on LIHP area. However, the level of community participation is very low either individually or as a group. The participation is limited to securing and maintaining the area from the forest fires. Local community wisdom is still applied in land clearing and hunting method within the area. Supervision, fostering partnership, relationships between communities and LIHP managers are required to improve community capacity and conservation awareness. As in return, it will reduce community dependence and utilization of LIHP’s land. This study also recommends the need to actively engage with non-governmental organisation or civil society as part of LIHP’s sustainable management. It is intended to improve community welfare and provide opportunities for local wisdom development in the management of LIHP.

KEYWORDS

Forest conservation; sustainable management; socio economic; Lingga Isaq Hunting Park



Sumber: http://journal.ipb.ac.id/index.php/jmht/article/view/18050/14706

PENERIMAAN MAHASISWA BARU TA. 2019/2020



Program Bantuan Dana Kegiatan Kemahasiswaan

Program Bantuan Dana Kegiatan Kemahasiswaan

Kabar gembira bagi mahasiswa maupun organisasi kemahasiswaan untuk mengajukan proposal bantuan kegiatan kemahasiswaan kepada LLDikti sesuai dengan format yang dapat diunduh di http://belmawa.ristekdikti.go.id/.

7 Hektar Lahan Gambut di Aceh Barat Terbakar

Aceh Barat - Tujuh hektar lahan gambut di tiga desa dalam Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat terbakar, ke tiga desa tersebut meliputi Suak Raya, Lapang dan Desa Leuhan.

7 Hektar Lahan Gambut di Aceh Barat Terbakar

Kepala Pelaksana Badan Penaggulangan Bancana Aceh (BPBA) Teuku Ahmad Dadek mengatakan kebakaran diperkirakan terjadi sejak Selasa (30/1) kemarin pukul 15.00 WIB

"Informsi kebakaran hutan tersebut diketahui berdasarkan laporan masyarakat. Begitu ada informasi tim langsung ke lokasi dan melihat lahan gambut terus terbakar," kata Dadek, kepada AJNN.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari BPBD Aceh Barat  kata Dadek, saat ini api yang membakar lahan gambut tersebut belum mampu dipadamkan. Namun pemadam kebakaran dibantu TNI Polri dan team TRC terus melakukan upaya pemadaman," katanya.

Untuk saat ini, kata dia, tiga unit mobil pemadam kebakaran diturunkan untuk memadamkan titik api di tiga lokasi tersebut. Kebakaran lahan gambut sendiri diduga terjadi akibat dari pembukaan lahan dengan cara membakar.

Sumber berita aceh terkini

Kuliah Umum ( Rekontruksi Masyarakat Melalui Pariwisata di Daerah yang Terkena bencana Alam)

Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Pante Kulu Banda Aceh mengadakan Kuliah Umum dengan pemateri  "Dr. Hikaru Kenchu, M. Sos" dari Fakulty of Social Science Department of Cultural Management Tourism Studies Mayor Japan. Tema yang dibawakan sangat sesuai dengan kondisi Aceh yang sedang mengembangkan dan membangun pariwisata sebagai sektor unggulan yang menjadi satu sumber pemasukan devisa utama seperti di banyak negara.

Popular Posts